Thursday, April 10, 2008

Kisah-kisah dari Kaum Sarungan

Pendahuluan
Setiap komunitas selalu menyimpan kekayaan budayanya tersendiri. Namun persoalannya, tidak semua budaya, yang seringkali teramat esotis itu, dapat diketahui dan ikut serta dinikmati oleh orang yang berada di luar komunitas tersebut. Terlalu banyak kekayaan dan keragaman budaya hanya dinikmati olah para ‘pemiliknya’ sendiri tanpa publikasi ke luar. Kiranya sebabnya sederhana saja, yaitu tidak adanya akses bagi orang lain untuk ikut bergabung dalam menikmati kedalaman budaya tersebut. Tidak adanya akses itu, di antaranya, bisa karena memang dalamnya kekayaan budaya tersebut sehingga tidak dapat dikonsepsikan, tetapi harus dialami sendiri secara langsung, sehingga orang luar merasa kesulitan tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Alam pikiran dan spiritualitas Timur dengan kekayaannya yang melimpah kiranya dapat menjadi contoh baik untuk hal ini.

Bisa juga tiadanya akses bagi orang luar itu lantaran memang tidak atau belum adanya penulis yang konsen terhadap masalah itu, yang bisa terjadi karena belum sadarnya para anngota komunitas akan kekayaan yang mereka miliki sendiri, atau memang karena kendala bahasa; belum adanya ‘orang dalam’ yang mampu untuk melakukan proyek ini. Karena itu, tidak jarang orang yang memperkenalkan kekayaan dan nilai-nilai berharga yang ada pada suatu komunitas adalah orang dari luar, yang setelah mengalami langsung dan hidup bersama dengan anggota komunitas, menemukan nilai-nilai luhur tersebut yang ia rasakan berbeda dengan apa yang terdapat di komunitas lain.

Dan di antara kekayaan budaya itu adalah kisah, cerita, legenda, anekdot, dan sebagainya yang ada pada suatu komunitas. Pesantren, yang oleh Abdurrahman Wahid disebut sebagai subkultur yang ada di Indonesia, adalah bagian dari kebudayaan yang lama tidak terekspos sebelum akhirnya ikut meramaikan jagad kebudayaan Indonesia sekarang. Banyak dari kekayaan budaya yang dimilikinya tidak terbaca oleh orang luar lantaran memang tidak adanya akses untuk itu. Tidak banyak para santri, sebutan untuk orang-orang yang sedang atau pernah tinggal di sana, memiliki kemampuan untuk mengekspresikan kekayaan dan melimpahnya budaya yang mereka miliki. Mereka mahir dan atraktif dalam sastra Arab, tetapi sedikit yang memahami sastra bangsanya sendiri, sastra Indonesia.

Di antara sedikit orang yang berusaha untuk terus mengekspresikan dan menampilkan kebudayaan pesantren ini adalah A. Mustofa Bisri. Kredibilitasnya sebagai seorang santri tidak ada yang meragukan. Selain menghabiskan masa studinya di berbagai pesantren, dia adalah anak seorang kiai besar dan berpengaruh di Jawa, Kiai Bisri Mustofa. Dan Lukisan Kaligrafi, kumpulan cerpen pertamanya ini, adalah salah satu usaha untuk mengenalkan dunia pesantren kepada kalayak umum melalui kisah-kisah yang ada di dalamnya. Pengisahan ini tidak dilakukan oleh orang luar, tetapi dilakukan sendiri oleh orang dari dalam.

Cerita dari pesantren
Inilah sebuah cerpen yang dianggit oleh seorang kiai tentang dunia kiai, santri, pesantren, dan masyarakat Islam bawah yang ada di sekeliling penulisnya. Di situlah letak keistimewaan cerpen ini. Pengalaman penulis sebagai seorang kiai, memungkinkannya mengungkap sisi-sisi lain yang tak terjangkau oleh orang lain yang tidak memiliki posisi yang sama dengannya. Demikian juga dari pengalamannya sebagai seorang santri, membuatnya cukup peka terhadap pengalaman sehari-hari kehidupan santri yang, dalam hal tertentu sangat humoris dan esotis, namun belum ditangkap dengan baik oleh yang lain.

Dilihat dari isi cerita yang ada di dalamnya, Lukisan Kaligrafi tidaklah terlalu istimewa bagi kalangan santri. Banyak dari kisah-kisah yang ada dalam kumpulan cerpen ini adalah kisah-kisah yang diakui kebenarannya oleh para anggota komunitas di sana. Kisah-kisahnya banyak diambil dari konteks lokal yang diceritakan dari mulut ke mulut di berbagai pesantren, namun belum terbukukan. Kisah Gus Jakfar yang keramat dan dapat membaca tanda-tanda, Amplop-amplop Abu-abu tentang Nabi Khidhir yang masih menemui orang-orang sampai masa sekarang, Ndara Mat Amit tentang wali dan kekasih Tuhan yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang, dan Mbok Yem tentang keajaiban-keajaiban yang terjadi sewaktu melaksanakan haji di Mekkah. Semua itu adalah kisah yang sudah lumrah dan sangat biasa di kalangan pesantren, namun asing bagi orang yang tidak mengenal dunia santri.

Kisah-kisah semacam itu terlalu biasa di lingkungan santri, akan tetapi tidak ikut dinikmati oleh orang dari luar karena memang tidak adanya akses untuk ke sana. Maka di sinilah letak kelemahan, kalau memang demikian, dari cerpen-cerpen ini. Kebanyakan cerita tidak mengisahkan sesuatu yang baru yang merupakan anggitan asli penulis sendiri, akan tetapi hanya merupakan publikasi atas apa yang sudah ada dan banyak beredar di lingkungannya. Cerpen-cerpen ini adalah cerpen-cerpen ‘sontekan’ karena mengisahkan sesuatu yang sudah ada.

Tetapi di situ pula keistimewaannya. Kisah-kisah yang sangat berlimpah itu tidak banyak terpublikasi ke luar karena memang belum ada orang ‘dalam’ yang mampu untuk mengangkatnya ke luar. Memang ada usaha-usaha yang mengarah ke sana, akan tetapi selalu gagal ‘kualifikasi’ sehingga hasilnya hanya cukup untuk dinikmati para anggota budayanya sendiri. Maka dapat dikatakan, Lukisan Kaligrafi ini adalah usaha pertama yang sukses dalam membawa kekayaan cerita-cerita ini ke hadapan kalayak luas di luar pesantren.

Model cerpen
Berbeda dengan banyak cerpenis lain yang mengandalkan deskripsi sebagai kekuatan tulisannya, hampir seluruh cerpen dalam Lukisan Kaligrafi menggunakan bentuk narasi dan dialog. Tidak banyak ditemukan penggambaran yang njelimet ataupun alur mundur sebagaimana ditemukan dalam banyak cerpen yang lain. Cerita-cerita yang ada di sini diceritakan secara datar, kebanyakan beralur maju, dan diisi dengan banyak dialog antar para tokohnya. Bentuk narasi ini tentu karena sebagian besar cerita yang diangkat memang sudah ada sebelumnya, bukan murni rekaan penulis, sehingga media yang terasa cocok pun adalah narasi.

Seperti dalam karya-karyanya Ahmad Tohari, bahasa yang digunakan penulis di sini adalah bahasa sehari-hari. Bahasa yang digunakan orang kebanyakan dalam bergaul dan tidak ‘ilmiah-akademis’. Selain itu, usaha untuk mengangkat kisah-kisah orang pinggiran dalam karya tulis juga menjadi kesamaan bagi keduanya. Kisah-kisah orang biasa dan keseharian mereka yang sebenarnya memuat nilai-nilai berharga untuk dinikmati dan, lebih dari itu, untuk direnungkan keluhurannya. Tentang kehidupan orang-orang yang ada di sekitar kita namun tidak kita sadari karena keterpukauan kita pada kisah orang-orang ‘besar’ yang kita kagumi.

Pola lain yang banyak terdapat dalam kumpulan cerpen ini adalah kejenakaan yang ada di dalamnya. Hal itu tidak aneh, karena dunia santri memang penuh dengan humor dan kejenakaan. Dan itu berhasil diangkat dengan baik oleh penulis dalam tulisannya. Cerpen Kang Amin adalah contohnya. Seorang santri yang menjadi tangan kanan kiai ini sudah lama memendam perasaaan cintanya pada putri kiainya. Uniknya, semua putri kiainya ini, oleh si Amin, satu persatu di cintainya setelah satu persatu pula meninggalkannya tanpa perasaan apa-apa terhadapnya. Setelah semua kisah cintanya gagal, “ada peristiwa besar yang benar-benar mengejutkan dan menggegerkan. Anda pun pasti tak percaya: Kang Amin kawin dengan Nyai Jamilah, janda Kiai Nur.”

Begitu pula cerpen Mubalig Kondang. Cerpen ini berkisah tentang seorang dai kondang ibu kota yang tenar dan sedang naik daun. Tetapi tidak disangka, di balik semua itu, si dai, KH. Drs. Samsuddin, ternyata adalah Sudin, teman mondok tokoh ‘Aku’ ketika masih di pesantren. Sidin yang nakal, banyak terkena sanksi, dan selalu tidak naik kelas ini ternyata sekarang menjadi pintar ‘menggurui’ orang lain. Suatu cerita yang bisa memberi kesan negatif maupun positif. Negatif, karena di balik kepopuleran dai ini, ternyata ia adalah ‘preman’ di pondoknya. Orang yang menggurui orang lain tetapi dirinya sendiri perlu untuk dinasehati. Positif, karena setiap orang dapat berubah, sebagaimana si dai yang sebelumnya adalah orang nakal, tetapi akhirnya menjadi orang yang saleh dan dapat mengajarkan kebaikan pada orang lain.

Dan satu hal yang sangat kentara dalam cerpen-cerpen ini adalah pesan moral dan religiusnya yang sangat kuat. Bentuk-bentuk dakwah yang penulis selipkan dan bahkan menjadi inti utama cerita banyak dijumpai hampir di seluruh buku ini. Tentu hal ini tidak lepas dari status penulisnya yang adalah seorang kiai. Dalam cerpen pertama, Gus Jakfar, pesan moral dan agama ini sudah langsung kelihatan. Gus Jakfar adalah seorang putra kiai yang memiliki kelebihan dapat membaca tanda-tanda yang ada dalam diri seseorang. Namun ia akhirnya sadar dan tidak menampilkan lagi kelebihan-kelebihan itu kepada orang lain setelah bertemu dengan Kiai Tawakkal. Pesannya jelas, bahwa kelebihan yang ada sebenarnya hanyalah merupakan ujian belaka bagi yang si empunya. Di samping itu, kesalehan dan ketidaksalehan seseorang tidak dapat dinilai dari keadaan lahiriahnya, akan tetapi itu semua adalah masalah batin yang kita semua tidak punya akses ke sana. Hanya Tuhan semata yang dapat mengetahui apakah seseorang itu adalah orang yang baik atau tidak. Karena itu kita tidak dapat mendaku bahwa seseorang akan masuk neraka hanya karena perbuatan lahirnya tidak seseuai dengan kualifikasi baik menurut kita.

Perbuatan lahir tidak menunjukkan kesalehan seseorang. Mbok Yem adalah salah satu contohnya. Dalam cerpen tersebut dikisahkan sepasang suami istri yang mengalami banyak keajaiban ketika sedang melakukan haji. Suaminya dapat kembali setelah hilang dalam kerumunan berjuta-juta orang di Mekkah. Padahal mereka adalah mantan seorang PSK dan pria pelanggan, namun akhirnya tobat bersama-sama. Amplop-amplop Abu-abu juga mengisahkan tentang seorang dai yang sibuk berdakwah dan mengajar orang lain sampai lupa untuk berdakwah dan mengajar dirinya sendiri. Ia mengurusi moralitas orang lain, akan tetapi menjadi lupa pada moralitasnya sendiri. Ia mengajar orang lain untuk tidak rakus terhadap dunia, akan tetapi dia sendiri tidak memiliki waktu selain mengejar hal-hal duniawi.

Di samping pesan moral yang kuat, hal-hal yang berbau mistis dan klenik juga banyak dijumpai dalam kumpulan cerpen ini. Kiranya hal itu wajar, karena penulis hidup dalam dunia yang lekat dengan hal-hal semacam itu. Cerpen Kang Kasanun paling banyak menampilkan segi mistik dan klenik ini. Ia menceritakan tentang Kasanun yang tidak hanya mahir seni bela diri, akan tetapi juga menguasai banyak kesaktian dan ilmu kanuragan. Ia tidak perlu membayar ketika membeli sesuatu di toko, karena ia dapat mengambilnya tanpa diketabui oleh pemiliknya. Tubuhnya dapat menghilang tanpa diketahui oleh orang lain. Namun toh akhirnya ia tobat dan meninggalkan kebiasaan dan kleniknya ini. Sekali lagi, model dakwah masuk lagi di sini. Bagitu juga dengan cerpen Ngelmu Sigar Raga yang berkisah tentang seseorang yang dapat keluar dari tubuhnya, dan akhirnya menjadi lupa akan jati dirinya sendiri. Tokoh ‘Aku’ menjadi lupa terhadap asal-usul, orang tua, bahkan dirinya sendiri karena sibuk akan aktivitasnya sebagai politisi penting di Jakarta.

Benang merah cerita
Setidaknya terdapat dua gagasan utama yang hendak di sampaikan penulis dalam buku cerpennya ini. Yang pertama adalah usaha untuk menampilkan sosok dan kehidupan pesantren, plus kiai dan santrinya, melalui cerita-cerita yang sebenarnya sudah banyak beredar dan sebagian bahkan diakui sebagai kisah-kisah nyata. Sebagaimana dalam penjelasan terdahulu, belum banyak akses bagi orang luar untuk mengetahui dunia pesantren. Maka kehadiran buku ini harus dilihat juga dari segi pengenalan subkultur ini, di samping untuk ikut serta meramaikan sastra Indonesia umunya.

Yang kedua adalah gagasan tentang Islam yang moderat, ramah, dan biasa-biasa saja. Secara historis, cerpen-cerpen yang ada di dalam Lukisan Kaligrafi ini adalah karya penulis dalam rentang waktu antara tahun 2002 sampai 2003. Masa-masa tersebut, begitu pula sampai sekarang, adalah masa yang buruk bagi Islam. Agama ini dicitrakan oleh dunia sebagai agama yang tidak manusiawi. Di situ, perang Afganistan dan Irak, yang diawali dengan penyerangan WTC terjadi. Di situ pula bom-bom bunuh diri banyak menimpa Indonesia secara khusus. Semua itu tentu tidak lepas dari pola perilaku kegamaan sebagian umat Islam sendiri yang ekstrim dan tidak toleran, di samping persepsi awal yang sudah negatif terhadap Islam.

Maka cerpen ini adalah sebuah dakwah untuk menampilkan dan mengajarkan Islam yang damai dan tidak ekstrim dari penulisnya. Islam bukanlah agama yang radikal dan tidak menaruh penghargaan terhadap orang lain. Penulis mau menampilkan Islam sebagai agama yang mengajarkan sikap yang toleran, ramah, dan tidak ekstrim dalam bertindak. Bahwa ekspresi luar keagamaan bukanlah aspek yang menjadi penekanan setiap agama, akan tetapi keluhuran budi dan batin yang ada dalam diri seseoranglah yang menjadi objek dan ukuran kesalehan. Kesalehan ritual bukanlah ukuran bagi keberagamaan seseorang. A. Mustofa Bisri mau menampilkan substansi Islam yang sebenarnya penuh dengan kedamaian, dan mengkritik umat Islam sendiri yang banyak menyimpang dari ajarannya, dengan bertindak ekstrim dan sering menyalahkan sesama saudaranya sendiri.

Autokritik ini dapat dengan jelas kita jumpai dalam Bidadari Itu Dibawa Jibril. Ia berkisah tentang seorang aktivis Islam yang mudah menjatuhkan status murtad dan sesat pada sesama umat Islam. Semua orang yang tidak sepaham dan sealiran dengannya dia kritik dengan keras dan ia masukkan dalam kategori sesat. Tetapi ternyata dari pola keberagamaannya yang kaku ini, ia toh terjerumus pula dalam aliran yang sama sekali tidak rasional. Aliran Jibril yang turun ke bumi dan menyuruh pengikutnya untuk membakar diri guna membersihkan diri dari dosa.

Demikian pula dengan cerpen Gus Jakfar yang mengajak orang untuk tidak cepat-cepat menempelkan stempel buruk pada orang lain hanya karena penampilan lahirnya yang kurang baik. Ukuran kesalehan bukanlah tanda-tanda lahirnya, akan tetapi dalam hatinya. Ada sisi-sisi terdalam yang tidak dapat kita lihat pada orang lain. Dan hanya Tuhanlah yang mengetahui dengan persis akan hal tersebut. Mengklaim dapat mengetahui keselamatan dan status seseorang di mata Tuhan tidak ada bedanya dengan mengaku diri sebagai Tuhan, karena telah mengambil alih hak-Nya dalam menentukan keselamatan seorang hamba.

Adapun cerpen Gus Muslih bercerita tentang seorang dai muda yang ingin membarui dan menampilkan agamanya dengan semangat jamannya. Namun ia harus berkonfrontasi dengan orang-orang tua yang konserfatif dan tidak mengharapkan pembaruan keagamaan. Kiranya penolakan ini jelas, karena pembaruan berarti menghilangkan status dan keistimewaan kalangan tua yang selama ini mereka nikmati. Sebuah kritik yang sebenarnya berlaku juga bagi setiap agama.

Adapun Lukisan Kaligrafi, cerpen yang dijadikan judul buku ini, berkisah tentang kebodohan kalayak umum tentang lukisan kaligrafi yang sebenarnya ‘tidak bernilai seni’, namun mereka apresiasi dengan begitu rupa hanya karena promosi yang menggiurkan. Sebuah kritik bagi kita yang seringkali terbuai oleh iklan dan promosi dan menjadi lupa akan nilai dan esensi dari barang yang dipromosikan itu sendiri.

Penutup
Cerita-cerita tersebut memang kisah yang berasal dari pesantren. Namun, meski berasal dari suatu kebudayaan yang tertentu, isi dan pesan yang mau disampaikan telah melampaui batas-batas kulturnya. Itu semua adalah kisah yang memuat ajaran cinta dan kedamaian universal yang lintas batas. Karena itu, buku cerpen ini kiranya tidak hanya baik untuk kita renungkan pesan-pesan moralnya, namun juga baik untuk menjadi cerita pengantar tidur bagi anak-anak kita, yang otaknya semakin dipenuhi oleh tokoh-tokoh imajiner rekaan asing dan tidak ‘membumi’. Selamat membaca.

Tentang buku:
Judul : Lukisan Kaligrafi
Pengarang : A. Mustofa Bisri
Penerbit : Kompas, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2003
Tebal : ix + 134 hlm.

Hijrah Nabi Muhammad

Beberapa ayat al-Qur’an telah turun dan memerintahkan Nabi Muhammad untuk secara terang-terangan mendakwahkan apa yang telah diterimanya dari Tuhannya. Ajarannya yang hanya mengakui satu Tuhan dan tidak memberi tempat bagi dewa-dewi yang sebelumnya dipuja hampir semua masyarakatnya membuat Nabi Muhammad harus berhadapan dengan mereka.

Sebagian orang Quraisy yang berkuasa mulai berkampanye untuk menyingkirkan Muhammad. Dia dianggap sebagai ateis dan ingkar terhadap ajaran nenek moyang. Seorang utusan mendekati Abu Thalib, pemuka klan setelah kematian kakek Muhammad, Abdul Muthalib, dan memintanya untuk mencabut perlindungan terhadap Muhammad yang diberikan oleh klannya. Sistem klan adalah dasar yang kuat pada zaman itu. Tak seorang pun dapat hidup tanpa perlindungan dari sebuah klan.

Hal ini merupakan permasalahan yang dilematis bagi Abu Thalib. Di satu pihak, dia tidak ingin membuat masalah dengan klan-klan yang ada. Tetapi di fihak yang lain, dia juga tidak mau menjadi pemimpin yang gagal karena tidak dapat memberikan perlindungan terhadap anggotanya, bahkan keponakan sendiri yang dikasihi. Dan pilihan yang diambil oleh Abu Thalib adalah tetap berkeras untuk tidak menyerahkan Muhammad kepada mereka.

Dan selama Abu Thalib masih ada, tidak seorang pun dapat menyingkirkan Muhammad. Tetapi tidak demikian dengan para pengikut Muhammad yang sebagian besar adalah dari lapisan bawah, budak misalnya. Mereka mendapatkan perlakuan yang kejam tiada tara dari para majikannya lantaran mengikuti keimanan Muhammad. Bilal, budak hitam yang dibebaskan Abu Bakar karena dilihatnya sedang dijemur di bawah sinar matahari di atas sebuah batu oleh majikannya, Ummayah, adalah contoh yang sering ditunjuk berkenaan dengan kekejaman musuh-musuh Muhammad.

Karenanya, Muhammad meminta Negus, pemimpin Abyssinia Kristen, untuk menerima kedatangan rombongan Muslim dari makah ke negerinya. Tahun 616 M. sekitar 83 Muslim meninggalkan Makah bersama keluarga menuju Abyssinia. Di antara mereka adalah Utsman bin Affan, khalifah ketiga setelah wafatnya Muhammad. Diterimanya para emigran oleh raja Negus tentu mengancam keberlangsungan hidup suku Quraisy. Karenanya, suku ini mengirimkan dua utusan ke Negus untuk memintanya memulangkan para pengacau ini.

Di depan Negus, masing-masing wakil dari kelompok Muslim dan Quraisy memberikan argumennya. Wakil dari Quraisy mengatakan bahwa para emigran ini adalah pengacau masyarakat dan pengutuk agama nenek moyang mereka. Adapun Ja’far, wakil dari kelompok Muslim, mengatakan bahwa Muhammad hanyalah seorang nabi, sebagaimana Yesus, yang diutus oleh Tuhan kepada umatnya. Dia membacakan surat Maryam, salah satu surat dalam al-Qur’an, kepada orang-orang yang hadir. Bacaan Ja’far ini telah membuat Negus terharu dan menangis, sehingga air matanya bercucuran. Negus menolak permintaan utusan dari Quraisy dan membiarkan kelompok Muslim ini menjalankan keimanan mereka di negeri yang baru ini.

Semakin bertambah banyaknya para pengikut Muhammad, meski berbagai usaha pencegahan telah dilakukan, membuat musuh-musuh Muhammad semakin agresif pula. Abu Jahl, musuh Muhammad dari klannya sendiri, mencari dukungan dari klan-klan lain untuk memboikot klan Hasyim dan Muthalib. Dengan didapatkannya dukungan pemboikotan dari klan-klan ini, maka tak seorang pun dapat menikah atau berdagang dengan dua klan tersebut. Dengan demikian, akses makanan terhadap mereka menjadi terputus.

Pemboikotan ini membuat semua anggota klan Hasyim dan Muthalib, baik yang Muslim maupun tidak, pindah ke jalan milik Abu Thalib, yang menjadi kampung minoritas. Meski demikian, larangan ini juga kurang populer, karena banyak orang-orang dari klan lain yang memiliki hubungan saudara dengan dua klan tersebut tetap menjalin hubungan dan mengirimi mereka makanan. Setelah dua tahun berlangsung, keadaan semakin agak membaik, dan kampanye untuk menghentikan boikot semakin kuat. Dan akhirnya larangan yang tergantung pada Ka’bah yang akan dicabut ternyata sudah tidak ada karena sudah habis dimakan ulat kecuali kalimat “Dalam nama-Mu ya Allah.”

Tahun 619 M. adalah tahun kesedihan bagi Muhammad. Khadijah meninggal segera setelah habisnya masa pemboikotan. Dia adalah istri sekaligus teman terdekat Muhammad. Tak seorangpun dapat menggantikan posisinya setelah kematiannya. Dia dikenal sebagai hartawan yang banyak memberikan hartanya untuk dakwah suaminya. Dialah orang yang memberikan ketenangan dan ketentraman jiwa sewaktu Muhammad menerima wahyu yang pertama kalinya. Dia disebut sebagai orang pertama yang masuk Islam dari kelompok wanita.

Namun kesedihan semakin bertambah dengan wafatnya Abu Thalib, yang ternyata belum masuk Islam, tak lama setelah wafatnya Khadijah. Dengan demikian, benteng perlindungan Muhammad nyaris runtuh. Orang-orang yang selama ini tidak berani mengganggunya lantaran masih adanya perlindungan dari Abu Thalib, sekarang semakin bebas untuk melancarkan gangguan dan serangannya.

Diceritakan, banyak orang sudah mulai terbiasa melempari Muhammad dengan kotoran onta dan usus domba. Mereka sering mengganggunya ketika dia sedang melakukan shalat. Dia semakin juga sering dilempari kotoran ketika sedang berjalan. Hal ini juga berpengaruh terhadap para pengikut-pengikutnya. Mereka juga mendapatkan perlakuuan yang tidak kalah mengenaskan darinya.

Mungkin karena putus asa, Muhammad pergi ke Thaif, sebuah kota perdagangan sebagaimana Makah, di mana beberapa anggota keluarga Abdi Syams dan Hasyim memiliki tempat tinggal di sana. Dia mengunjungi tiga bersaudara Tsaqif dan memintanya sesuatu yang tentu saja akan ditolaknya, yaitu menerima agama barunya dan memberikan perlindungan terhadapnya. Karena dikejar budak-budak mereka, Muhammad berlindung dikebun milik Utbah bin Rabiah, musuhnya di Makah. Meski demikian, dia mendapat perlakukuan yang baik darinya. Dia kembali ke Makah setelah mendapatkan perlindungan sementara dari keluarga Naufal. Pada saat inilah dia mulai berkhotbah pada peziarah badui yang datang pada musim haji.

Pada waktu-waktu inilah peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi. Ketika sedang tidur di hijr, tempat tertutup di barat daya Ka’bah, dia merasa dibangunkan oleh Jibril. Bersama Jibril, ia naik kuda surgawi yang dinamakan Buraq menuju ke Jerusalem atau Masjidil Aqsha dengan terlebih dahulu mampir ke Bethlehem dan Gunung Tursina, sebagai bentuk pengakuan terhadap kenabian dua orang sebelumnya, Yesus dan Musa. Di Jerusalem, Muhammad melakukan shalat bersama para nabi sebelumnya.

Perjalanan dilanjutkan dengan naik ke atas menembus langit. Di setiap langit dia menjumpai nabi-nabi tertentu yang diutus sebelumnya. Ketika sampai Tahta Ketuhanan, Muhammad mendapatkan perintah shalat 50 kali sehari dari Allah. Kewajiban shalat lima puluh kali ini akhirnya mendapat pengurangan menjadi lima kali sehari setelah bolak-balik menghadap Allah karena nasehat dari Nabi Musa. Dalam tradisi sufi, peristiwa ini dianggap sebagai keberhasilan Muhammad dalam mencapai posisi terdekat dengan Tuhan.

Sebagaimana biasa, pada musim haji tahun 620 Muhammad mendatangi peziarah yang berkemah di Aqabah. Bersama enam orang penyembah berhala dari Yatsrib, ia duduk bersama, menceritakan misinya, dan membacakan al-Qur’an kepada mereka. Kali ini ia mendapat perhatian penuh simpati dari mereka. Mereka yakin bahwa Muhammad adalah nabi yang akan keluar dan yang sering dibicarakan. Bagi mereka, jika Muhammad adalah benar seorang nabi, maka penting untuk mencegah para Yahudi menemukannya terlebih dahulu. Sejak saat itu mereka masuk Islam.

Waktu itu Yatsrib belum merupakan kota sebagaimana Makah, tetapi sebuah perkampungan dengan sebuah oase. Hingga awal abad ke-7, terdapat tiga suku Yahudi utama di sana; Bani Quraidhah, bani Nadhir, dan bani Qainuqa. Ada juga suku lain yaitu Aus dan Khajraj yang keduanya berasal dari Arabia Selatan.

Ketika Muhammad berdakwa kepada enam peziarah dari Yatsrib, sebenarnya mereka tidak terkejut dengan pesan monoteisnya, karena mereka sudah sering medengar hal tersebut dari orang-orang Yahudi Yatsrib. Bahkan, sebagai utusan Allah, Muhammad dipandang akan mampu menjadi pemimpin yang lebih tidak berpihak dibanding Ibn Ubay, pemimpin mereka. Mereka akan kembali lagi tahun depan dengan melaporkan perkembangan agama baru mereka. Mereka yang dari suku kecil Khajraj harus dapat menarik simpati dari suku Aus yang besar.

Pada tahun haji 621, enam pengikut baru dari Yatsrib datang kembali ke Makah dengan membawa tujuh orang, di mana dua di antaranya dari suku Aus. Mereka bertemu Muhammad di Aqabah dan melakukan sumpah resmi (baiat Aqabah pertama) untuk menyembah hanya kepada Allah dan melaksanakan perintahnya. Dan ketika kembali ke Yatsrib, Muhammad mengirim Mush’ab bin Umar untuk mengajarkan al-Qur’an kepada penduduk Yatsrib. Dari Mush’ab inilah banyak orang-orang Yatsrib yang semula tidak simpati terhadap agama baru ini menjadi pemeluknya yang setia.

Agama Islam menyebar dengan cepat di daerah ini. Bahkan di setiap keluarga akan ditemukan seorang Muslim di sana. Dan di tahun 622, sebanyak 73 laki-laki dan 2 perempuan Muslim dari ratusan peziarah meninggalkan Yatsrib menuju Makah. Dalam pertemuan malam di Aqabah, di mana para Muslim ini meninggalkan teman-teman penyembah berhala, mereka berikrar, ”Kami berjanji akan berperang demi kepatuhan mutlak kepada sang Rasul, dalam kesenangan maupun kesedihan, kemudahan atau kesulitan, kami tidak akan berbuat salah lagi, kami akan mengatakan kebenaran setiap waktu, dan kami tidak akan khawatir lagi pada celaan orang dalam beribadah.”

Sekembalinya rombongan ini ke Yatsrib, Muhammad mendorong para pengikutnya untuk melakukan hijrah, migrasi dari Makah ke Yatsrib. Hijrah bukan hanya masalah perubahan geografi, tetapi umat Muslim Makah harus meninggalkan Quraisy dan menerima perlindungan permanen dari suku yang tidak memiliki hubungan darah dengan mereka. Ini adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan dapat menyinggung perasaan bangsa Arab.

Karenanya, hijrah adalah sesuatu yang menakutkan. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Meski demikian, Muhammad tidakmengharuskan umat Muslim untuk beremigrasi. Yang tida sanggup diperkenankan untuk tetap tinggal di Makah dan tidak akan dianggap murtad.

Pada bulan Juli-Agustus tahun 622, sekitar tujuh puluh Muslim berangkat ke Madinah, nama lain dari Yatsrib, bersama dengan keluarga mereka. Mereka menumpang di rumah-rumah orang Anshar, Muslim yang dari Madinah, sampai mereka dapat membangun rumah sendiri. Meski orang-orang Quraisy berusaha menghalang-halangi hujrah ini, namun umat Muslim juga tidak kalah cerdik dalam mengelabuhi mereka agar tidak ketahuan dalam berhijrah. Dikisahkan, pintu-pintu rumah mereka membuka dan menutup ditiup angina karena tidak ada penghuninya. Muhammad sendiri bersama Abu Bakar tetap di Makah sampai semuanya pergi.

Setelah pelindung Muhammad, Muth’im, meninggal, para pemuka Quraisy mengadakan pertemuan untuk menghabisi Muhammad. Abu Jahl memberikan usul penyingkiran Muhammad tanpa pertumpahan darah yang akhirnya diterima oleh orang-orang yang hadir. Usul itu adalah bahwa setiap klan akan mengirimkan pemuda terbaiknya untuk mebunuh Muhammad secara bersama-sama. Dengan demikian klan Hasyim tidak akan dapat membalas dendam kepada semua klan yang ada.

Pada suatu malam yang telah ditentukan, segerombolan pemuda pilihan ini mendatangi kediaman Muhammad dan akan membunuhnya. Namun karena ada wanita dan anak kecil di sana, mereka menundanya sampai pagi. Lagi pula Muhammad masih dilihat terbaring di atas ranjangnya. Mereka tidak menyadari bahwa setelah mendengar rencana mereka dari Jibril, Muhammad keluar dan menyuruh Ali, sepupunya, untuk tidur di tempatnya. Sehingga ketika yang didapati hanyalah Ali, mereka langsung menawarkan seratus ekor unta bagi siapa saja yang dapat membawa kembali Muhammad, baik dalam keadaan hidup ataupun mati.

Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa klaim terhadap masyarakat di mana Nabi Muhammad hidup sebagai orang yang bodoh (jahiliyyah) dalam pengetahuan tidaklah benar. Karena dari contoh tersebut kita dapat melihat betapa mereka sangat menghormati eksistensi orang lain dan tidak akan membunuh orang yang tidak menjadi sasarannya.

Muhammad sudah pergi bersama Abu Bakar menuju sebua gua di luar Makah dan bersembunyi di sana selama tiga hari. Beberapa kerabat mengirimi mereka makanan. Sebenarnya, para pencari pun telah sampai ke tempat itu, namun sebuah mukjijat telah datang. Hanya dalam semalam, sebuah pohon akasia telah tumbuh, dan di mulut gua telah bersarang seekor merpati, dan mulut gua telah dipenuhi dengan jaring laba-laba; suatu tanda yang menunjukkan bahwa di dalamnya tidak akan ada orang yang baru saja masuk.

Setelah dirasa aman, mereka melanjutkan perjalanan dengan naik anta yang baru dibeli dari Abu Bakar, Qaswa. Dan untuk sampai Madinah, mereka harus menempuh perjalanan yang panjang dan berkelok-kelok untuk menghilangkan jejak. Setelah sampai Quba, daerah sebelum Madinah, mereka tinggal selama tiga hari dan membangun masjid Islam pertama di sana, Masjid Quba.

Setelah sampai Madinah, untuk menghilangkan kesan pilih kasih, Muhammad tidak turun dari Qaswa sampai onta itu berhenti dengan sendirinya. Di kebun dua anak yatim onta itu berhenti dan di sanalah Muhammad akan memulai hidup barunya di Madinah.

Langkah pertama yang disebut telah dilakukan Muhammad di Madinah adalah mendirikan Masjid Nabawi. Di sini semua orang baik dari Muhajirin maupun Anshar bekerja sama dalam mendirikan rumah Allah itu. Dan di sebelah masjid ini Muhammad tinggal.

Yang kedua adalah mempererat persaudaraan kaum muslim, yaitu dengan mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin. Kaum Muhajirin yang jauh-jauh datang dari Makah dengan tidak membawa apa-apa, oleh Muhammad dipersaudarakan dengan orang Anshar. Meski hubungan ini baru dan tidak ada ikatan darah sebelumnya, namun mereka diharuskan untuk saling berbagi, bahkan harta seorang Anshar harus dibagi dua dengan saudaranya dari Muhajirin.

Yang ketiga, untuk memantapkan dan menjamin keamanan dengan masyarakat Madinah, Muhammad mengadakan perjanjian dengan orang-orang Yahudi. Bahwa semua suku harus menguburkan semua rasa benci dan membentuk satu umat dan saling melengkapi. Dokumen yang disebut sebagai Piagam Madinah ini sampai sekarang sering disebut-sebut sebagai dasar hak-hak asasi manusia modern.

Sampai di sini Islam dituduh sebagai agama yang memecah belah masyarakat. Muhammad dituduh telah mencuri anak-anak dari orang tuanya. Tetapi setelah ikatan-ikatan kuno telah dicabut, suku Quraisy, Aus, dan Khajraj membentuk umat yang satu. Sehingga Islam menjadi kekuatan pemersatu, bukan pemecah belah lagi.

Seperti suku, umat adalah dunia tersendiri, satu komunitas di luar manusia lainnya, namun tetap dapat membuat persahabatan dengan suku-suku lain dengan cara konvensional. Kesatuan umat adalah cermin dari kesatuan dengan Tuhan. Tak ada ikatan darah, tak ada kesetiaan suku, semua harus menjaga kerukunan umat: sesama Muslim tak boleh saling berkelahi, apapun sukunya.

Meski demikian, tidak semua orang Madinah yang masuk Islam adalah murni karena beriman. Beberapa orang munafiq masuk Islam karena ingin mendapatkan kedudukan dan kehormatan. Dan beberapa yang lain tetap tidak puas dengan Islam, karena dengan masuknya ke dalam Islam, berarti kedudukan mereka terancam. Abdullah bin Ubay, calon terkuat pemimpin Madinah, tidak menjadi pemimpin Madinah karena kedatangan Muhammad. Karenanya dia menjadi pemimpin orang-orang munafiq ini.

Setelah melalui berbagai konflik dengan Yahudi Madinah, akhirya agama baru ini menyatakan mandiri dan terbebas dari agama tua itu yang ditunjukkan secara simbolis melalui perubahan arah kiblat dalam shalat. Kiblat shalat yang semula menghadap Jerusalem, kini harus diubah dengan menghadap ke Ka’bah. Ketika itu, Muhammad harus membuat jamaah shalatnya berputar dalam menghadap kiblat, karena turunnya wahyu dalam keadan shalat.

Perubahan arah kiblat ini disebut sebagai tanda keagamaan Muhammad yang paling kreatif. Dalam menghadap Makah, kaum Muslim secara diam-diam menyatakan bahwa mereka tidak menjadi bagian dari komunitas yang telah mapan, melainkan hanya mengarah kepada Tuhan semata. Dengan mengarah pada Ka’bah yang merdeka dari dua agama terdahulu, umat Islam kembali ke keimanan asal dari seorang manusia yang membangun Ka’bah itu, Ibrahim.

Friday, August 3, 2007

merenung

“Alangkah beruntungnya memiliki ‘aql yang bebas, dan qalb yang selalu khusyu’ mengingat Allah.”

Monday, July 9, 2007

Metafisika, Mungkinkah Sebagai Ilmu Pengetahuan?

Pandangan Immanuel Kant Tentang Metafisika

Pengantar
Lama sebelum Kant muncul dengan pemikirannya, metafisika telah menjadi “ratu” dalam ilmu pengetahuan. Ia mengklaim dapat mengetahui rahasia paling dalam dari kenyataan. Namun Kant justru mempertanyakan klaim kesahihan metafisika ini. Apakah metafisika memang memberi pengetahuan yang benar tentang kenyataan? Apakah konsep-konsep metafisika yang apriori dan tidak berasal dari pengalaman itu dapat dibenarkan dan dipertanggung-jawabkan?

Pemikiran dan kritik Kant dalam metafisika
Kant terkenal dengan usahanya dalam mensintesiskan dua paham besar dalam pengetahuan, yaitu rasionalisme dan empirisme . Yang pertama mengklaim bahwa pengetahuan hanya berasal dari rasio, sedangkan yang kedua mengasalkannya hanya dari pengalaman. Keduanya sama-sama mengklaim dapat menjelaskan kenyataan secara tuntas. Kant sendiri memulai filsafatnya dengan memusatkan penyelidikan tentang subjek, tidak penyelidikan atas benda-benda sebagai objeknya. Karenanya, filsafat Kant dinamai dengan kritisisme, lantaran mengawali perjalanannya dengan menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio terlebih dahulu.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, Kant membedakan dua macam putusan; putusan analitis dan putusan sintesis. Putusan analitis adalah putusan yang predikatnya sudah terkandung dalam subjek, sehingga predikat hanyalah analisis atas subjek. Sedangkan putusan sintesis adalah putusan yang predikatnya tidak terkandung dalam subjek, sehingga mengandung informasi baru. Putusan analitis bersifat apriori, dan putusan sintesis bersifat aposteriori. Namun masih ada putusan jenis ketiga, yaitu sintesis apriori. Mengingat banyaknya ilmu pengetahuan yang berhasil dalam menggunakan putusan jenis ketiga ini, bagaimana putusan ini dapat diterangkan? Sekaligus kalau metafisika ingin menjadi ilmu pengetahuan, ia harus memiliki putusan sintesis apriori ini.

Pengetahuan pada taraf indra.
Menurut Kant, pengetahuan kita pada taraf indra adalah sintesis atas unsur-unsur yang sudah ada sebelum pengalaman, dan unsur-unsur yang didapat setelah pengalaman. Yang pertama bersifat apriori, dan yang kedua bersifat aposteriori. Unsur aposteriori yang merupakan materi pada taraf ini adalah cerapan-cerapan atas objek. Sedangkan unsur apriori yang merupakan formanya adalah ruang dan waktu. Kant tidak memahami ruang dan waktu ini sebagaimana Newton, akan tetapi memahaminya sebagai perlengkapan mental atau instrurmen rohaniyah yang menggarap data-data indrawi. Di sini belum ada pengetahuan, akan tetapi baru pengalaman.

Dengan demikian, ada realitas pada dirinya sendiri. Das Ding an sich itu tidak dapat kita ketahui karena kita hanya dapat mengetahui gejala atau penampakannya saja yang merupakan sintesis antara cerapan-cerapan atas subjek dengan ruang dan waktu.

Pengetahuan pada taraf akal (verstand)
Menurut Kant, ada dua kemampuan pada diri subjek, yaitu sensibilitas (kemampuan untuk menerima data-data indrawi) dan verstand (kemampuan untuk menghasilkan konsep). Dalam pembentukan putusan ini, juga terjadi sintesis antara unsur materi dan forma. Materi dalam verstand adalah data-data indrawi yang oleh akal diolah menjadi fenomena atau penampakan. Sedangkan formanya adalah 12 kategori yang merupakan syarat apriori pengetahuan. Keduabelas kategori itu adalah kesatuan, kejamakan, keutuhan, realitas, negasi, pembatasan, substansi, kausalitas, resipresitas, kemungkinan, peneguhan, dan keperluan.

Agar suatu objek dapat diketahui, objek tersebut harus menyesuaikan diri dengan kedua-belas kategori itu, bukan sebaliknya. Karenanya, 12 kategori itu mirip dengan kaca mata berwarna yang kita pakai, sehingga semuanya terlihat sesuai dengan warna kaca mata itu. Tanpa 12 kategori itu, realitas tidak akan tampak. Dengan demikian, pengetahuan alam jelas menjadi mungkin, karena dalam pengenalan manusiawi, subjek tidak mengarahkan diri kepada objek, melainkan pengenalanlah yang berpusat pada subjek.

Pengetahuan pada taraf rasio atau buddhi (vernunft)
Di sini, rasio menghasilkan ide-ide transendental yang tidak memperluas pengetahuan kita, tetapi mengatur putusan-putusan akal ke dalam sebuah argumentasi. Jika akal langsung berkaitan dengan penampakan, maka rasio berkaitan dengannya secara tidak langsung, yaitu melalui akal. Di sini rasio menerima putusan-putusan akal untuk mendapatkan kesatuan dalam terang asas yang lebih tinggi. Dalam penyusunan putusan-putusan ini, rasio dipimpin oleh tiga macam idea, yaitu idea jiwa, idea dunia, dan idea Allah. Ide jiwa menjamin kesatuan akhir dalam pengalaman subjek dalam hubungannya dengan diri sendiri. Ide dunia menjamin kesatuan akhir dalam hubungan kausal dalam penampakan objektif. Sedangkan ide Allah menjamin kesatuan akhir dari segala sesuatu yang dapat dipikirkan.

Dengan demikian, kesalahan metafisika adalah ia memandang ketiga idea itu sebagai gagasan tentang benda yang berada. Ia mau menerapkan 12 kategori itu pada idea-idea, padahal 12 kategori itu hanya berlaku untuk pengalaman. Kalau metafisika mau menjadi ilmu pengetahuan, ia harus memiliki objek yang berhubungan dengan idea-idea transendental. Padahal tak ada objek pengalaman bagi ketiga idea itu. Karenanya, metafisika tidak mungkin menjadi ilmu pengetahuan.

Tanggapan
Usaha Kant dalam membuat sintesis antara rasionalisme dan empirisme masih terlihat berat sebelah ke arah rasionalisme. Hal itu terlihat dalam ajarannya tentang proses pengetahuan. Di situ nampak bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan, maka makin berkuranglah peran unsur aposteriorinya.

Friday, July 6, 2007

Suara Hati dan Fitrah Manusia

Ada sebuah ungkapan yang dikenal di kalangan orang-orang kerohanian, bahwa di dalam diri manusia ada “ruang kosong” yang harus kita isi dengan hal-hal yang baik. Jika kita tidak mengisinya dengan hal-hal yang baik, maka ruang kosong itu, otomatis akan diisi dengan hal-hal yang buruk. Ibarat sebuah roda, ruang kosong itu adalah yang menjadikannya sebagai roda. Metafor ini bisa dipakai untuk manusia: ruang kosong itulah yang menjadikan kita berarti secara spiritual sebagai manusia. Itulah: suara hati, atau hati nurani.

Apa yang berkaitan dan sering dibicarakan sebagai "suara hati" (conscience) ini dalam Islam digambarkan dengan berbagai nama, qalb, fu`âd, lûbb, sirr, `aql, dan sebagainya, yang semuanya berhubungan dengan pengertian kesadaran, atau biasa disebut dalam wacana Islam sebagai "hati" (qalb, kalbu) saja, dari kata qalaba yang artinya "membalik" --berpotensi bolak-balik: di suatu saat merasa senang, dan di saat lain merasa susah, di suatu saat menerima, di saat lain meolak. Sehingga hati seringkali tidak konsisten, sehingga dibutuhkanlah cahaya Ilahi (maka disebut "hati-nurani" –yang maknanya hati yang bercahaya). Hati bisa "bolak-balik" sebab, kadangkala ia menerima bisikan malaikat (lammah malakîyah), kadangkala bisikan setan (lammah syaithânîyah), kadangkala bisikan nafsunya sendiri.

Kedudukan hati ini sangat penting dalam Islam, sehingga dalam Sufisme—pemikiran mistisisme Islam—misalnya, menaruh uraian tentang hati ini dalam jantung ajarannya. Walaupun kata "hati" ini barangkali kurang mengena bagi orang-orang modern dewasa ini yang terbiasa dengan wacana ilmu pengetahuan yang rasional, tetapi asing dengan istilah-istilah metafor—seperti "hati" yang lebih banyak merupakan tamsil-ibarat dari ilmu-ilmu kearifan. Tetapi justru inti ajaran agama—yang membawa manusia pada moralitas luhur (akhlâq al-karîmah) ada dalam wacana suara hati ini.

Imam al-Ghazali—seorang teolog besar Muslim abad 12—membahas soal suara hati ini dalam salah satu babnya dalam buku Ihya’ Ulum-i al-Din yang sangat terkenal. Pembahasan al-Ghazali tentang hati dalam buku tersebut, dapat dibandingkan dengan pembahasan tentang “Kecerdasan Emosi” (Emotional Intelligence, EQ) dan “kecerdasan spiritual” (spiritual intelligence, SQ) dalam psikologi kontemporer. Dalam buku tersebut, al-Ghazali menjelaskan “hati” sebagai acuan yang harus dikembangkan dalam pencapaian kehidupan rohani. Bahkan ia menafsirkan hati sebagai esensi dari kemanusiaan itu sendiri. Ia membandingkan hati dengan sebuah kaca yang mencerminkan segala sesuatu di sekelilingnya. Jika hati ada dalam situasi yang kacau, di mana akal-budi (`aql) yakni potensi yang dapat mengembangkan suara hati ini ditaklukkan dan tak dikenali, maka hati menjadi “mendung dan gelap” (artinya orang mengalami perasaan-perasaan negatif (sering disebut negative ego, dalam spiritualitas), akibatnya menjadi kurang cerdas secara emosi dan spiritual, yang biasa disebut dalam tasawuf "penyakit hati").

Sebaliknya jika keseimbangan yang benar ditegakkan, kaca hati tersebut akan mencerminkan kecemerlangan bidang rohani, dan dengan demikian terbukalah sifat-sifat langit, dan terpantullah akhlak Allah. Sesuai dengan Hadits Nabi, “Hiasilah dirimu dengan akhlak Allah.” Melalui dzikir kepada Allah, dan terhiasinya sifat-sifat positif dari akhlak-Nya, maka suara hati ini (kesadaran moral) pun mencapai apa yang dalam agama disebut “jiwa yang tenang” (nafs al-muthmainnah) yang membuka pintu bagi kedekatan kepada Allah. Sehingga hati menjadi tempat bagi ingatan akan Allah, sehingga akhirnya hati ini menjadi cahaya Allah. Hal ini seperti diungkap dalam al-Qur’an: al-Nûr/24: 35.

Islam menyebut bahwa melalui hati inilah manusia menemukan kesadaran ketuhanannya --yang nantinya akan mempunyai segi konsekuensial pada kesadaran moral dan sosialnya. Kesadaran yang disebut ketakwaan ini tumbuh dalam hati; sebaliknya dosa dan kekafiran juga berkembang dalam hati.

Pandangan tentang Manusia dan Pembinaan Suara Hati
Islam menegaskan bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Pelihara saja dasar itu, tidak usah ditambahi dan dikurangi. Meminjam istilah Dante Alegieri dalam bukunya Divina Comedia, menurut Islam manusia itu dilahirkan dalam fitrah yang suci. Sehingga seorang bayi, hidup dalam alam paradiso (kalau mati dalam Islam dianggap langsung masuk ke surga). Dalam perkembangan selanjutnya—dalam istilah keagamaan—karena kelemahannya sendiri, sang bayi yang tumbuh pelan-pelan menjadi dewasa ini lalu tergoda, karena tarikan kehidupan dunia, sehingga sedikit demi sedikit ia masuk ke alam inferno: “neraka dunia” (metafor untuk mereka yang menjauhi diri dari suara hatinya yang suci). Karena dosanya hatinya pun menjadi kotor. Kemudian dalam suatu keadaan yang disebut penyucian, seorang manusia dilatih kembali untuk lepas dari inferno-nya, dari neraka dirinya. Inilah proses ke alam purgatorio, alam pembersihan diri, dimana dari sini akan terbuka kembali alam kefitrahannya, yang pada dasarnya setiap manusia dilahirkan dalam kefitrahan ini: keadaan hati yang ada dalam kecemerlangannya. Sebenarnya fitrah ini bukanlah sesuatu yang didapatkan atau diusahakan, tetapi sesuatu yang “ditemukan kembali.” Itu sebabnya istilah yang dipakai (seperti misalnya dalam Idul Fitri kita minggu depan) adalah “kembali ke fitrah” yang secara simbolik artinya adalah merayakan kembalinya diri kita kembali ke alam paradiso—surga diri, alam kefitrahan manusia, "kembali kepada kecemerlangan suara hati"; asal dari penciptaannya. "Maka hadapkanlah wajahmu benar-benar kepada agama; menurut fitrah Allah yang atas pola itu Ia menciptakan manusia. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah, itulah agama yang baku; tetapi kebanyakan manusia tidak tahu." (Q. s. al-Rûm/30:30).

Lawan dari fitrah ini, adalah dosa. Apa itu dosa? Al-Qur'an menyebut orang yang berdosa itu sebagai zhâlim –yang sudah menjadi bahasa Indonesia, zalim, lalim-- dan sering diterjemahkan dengan arti aniaya. Secara harafiah, zhâlim artinya orang yang menjadi gelap. Dosa dalam bahasa Arab, zhulmun, kegelapan, artinya membuat hati yang gelap (suara hati yang tertutup). Kalau seseorang banyak berdosa, maka hati (suara hati)-nya tidak lagi bersifat nûrânîy (bersifat cahaya [bandingkan istulah bahasa Indonesia suara-hati [kata-hati] dengan hati-nurani ini, yang sama-sama sering dipakai sebagai terjemahan dari conscience]), tetapi sudah zhulmânîy.

Kalam Cinta Dari Tuhan

Salah satu unsur pokok agar suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai tindakan moral, menurut hipotetis kategoris-nya Immanuel Kant, adalah adanya sifat otonomi. Seturut prinsip ini, suatu tindakan dapat disebut sebagai tindakan moral hanya jika dilakukan dengan kesadaran bahwa tindakan tersebut memang bernilai pada dirinya sendiri, dan karena itu layak untuk dilakukan. Sifat ini berlawanan dengan sifat moral heteronom, dimana tindakan dilakukan bukan karena kesadaran akan nilai dari tindakan tersebut, namun semata karena dorongan dan pengaruh faktor-faktor eksternal seorang pelaku.


Persis sifat moral otonom inilah yang akan kita jumpai sebagai karakter sekaligus menjadi kepribadian tokoh-tokoh utama dalam novel Kalam Cinta dari Tuhan karya Ali Sobirin El Muannatsy ini. Dalam menentukan sikap dan tindakan, apalagi menyangkut hal-hal penting dalam hidup yang harus diputuskan, dua tokoh utamanya, Jony ‘Kesiangan’ dan Revy, meski mendapat berbagai ide, saran, dan bahkan penentangan dari luar, mereka tetap pada prinsip dan keyakinan moralnya masing-masing yang dianggapnya benar. Masukan dan saran dari orang lain memang sangat berguna, tetapi keputusan akhir tetap ada pada pelaku. Karenanya, mereka sendiri juga yang akan mempertanggung-jawabkannya kelak dihadapan Sang Khalik.


Novel ini berkisah tentang salah satu bagian dari perjalanan hidup Jony, seorang mahasiswa UIN Ciputat yang sedang menjalani semester akhir masa perkuliahannya. Diceritakan, untuk membantu meringankan beban kedua orang tuanya yang hidup pas-pasan di sebuah desa di Jawa Tengah, Jony, bersama teman-temannya, membuka usaha rental komputer dan foto copy di kost-kostannya. Selain dikaruniai wajah yang lumayan, Jony juga berotak encer. Tidak hanya itu, ia juga memiliki “bakat alami” dalam bergaul dengan teman-teman ceweknya. Pengarang mengistilahkannya dengan ‘kalung usus’, sebuah keyakinan kuno bahwa anak yang lahir dengan usus melingkar di lehernya, kelak ia akan mudah bergaul dan disukai banyak orang Tetapi justru lantaran “bakat alami” yang dimilikinya ini ia menuai banyak masalah. Pasalnya, banyak dari teman-temannya cewek yang tergila-gila padanya. Bahkan, seorang pelanggannya yang sudah bersuami pun ikut pula kesengsem.


Dalam perjalanan selanjutnya, muncullah drama cinta segi tiga antara Revy dan Betty yang sama-sama mencintainya, serta Yuni yang ia cintai karena lebih dewasa. Namun pilihan akhirnya tertuju pada Revy, gadis manja yang sering bertingkah kekanakan. Dan dari sinilah muncul banyak ketegangan. Di satu sisi memang Jony mencintai Revy, namun di sisi lain keduanya tidak se-kufu; Jony yang merupakan anak dari keluarga miskin merasa tidak sepadan dengan Revy yang berasal dari keluarga elit. Hal itu masih ditambah dengan beban Jony yang masih harus menyelesaikan masa akhir studinya. Sedangkan Revy sendiri juga tidak luput dari tekanan orang tuanya yang akan menjodohkannya dengan laki-laki pilihan mereka. Kisah ini berakhir secara happy ending dengan pertemuan tak terduga antara keduanya di rumah Revy, yang ternyata adalah anak dari teman Abi-nya Jony sendiri.


Sebuah pesan
Membaca cerpen ini ibarat hadir dalam sebuah majlis taklim yang sarat dengan petuah-petuah moral yang menyejukkan kalbu. Bedanya, ajaran-ajaran moral yang diutarakan di sini tidak disampaikan secara ngotot dan berpretensi. Melainkan, meski sangat jelas, pesan tersebut dibalut dengan perumpamaan dan dialog yang mengalir, sehingga tidak terkesan menggurui.


Lebih dari itu, ini adalah salah satu dari beberapa novel yang mengandung nilai-nilai Islam yang wasath. Nilai-nilai Islam yang tidak kaku, kolot, dan jumud. Ia memberi kepada kita sebuah pengertian bahwa berislam tidak berarti mengikuti secara buta apa yang ada pada generasi masa silam, apalagi menyontek ajaran yang sebenarnya hanya merupakan produk budaya dari sebuah kebudayaan tertentu. Islam adalah agama yang menghargai baik budaya masa lalu maupun masa kini. Novel ini mengkritik keras pola keberislaman masyarakat Indonesia, terlebih mereka yang dianggap sebagai pemuka agama, yang lebih menyukai bentuk-bentuk luar ajaran, tanpa berusaha untuk mengetahui dan menghayati isi dan kandungan ajarannya yang hakiki. Di samping itu, pertentangan antara nilai-nilai al-haya’ yang ‘islami’ dengan permisifisme yang ‘sekuler’ juga mendapat porsi tersendiri di sini.


Kritik pedas terhadap kapitalisme juga akan segera kita jumpai dalam novel ini sejak dari awal. Percakapan antartokohnya memberikan pengertian kepada kita akan dampak buruk kapitalisme yang diusung oleh Barat untuk kita. Kritiknya tajam terhadap merebaknya mall-mall besar milik pemodal asing di Jakarta, sehingga menggusur lahan pencarian nafkah para pedagang lokal yang bermodal pas-pasan. Demikian juga kritik terhadap mode yang menjadi menu utama orang-orang kelas atas. Padahal banyak saudaara-saudaranya yang untuk dapat bertahan hidup tiap harinya saja sudah beruntung. Mungkin ini sesuai dengan consern penulisnya yang aktif di sebuah LSM pemberdayaan masyarakat.


Penulis cukup baik dalam mendiskripsikan latar dan kejadian cerita, dengan dilengkapi data-data yang agak lengkap, sehingga pembaca seolah benar-benar mengalaminya sendiri. Karenanya, sebagaimana Gusmus dalam pengantarnya, seorang yang berada di luar lingkup UIN akan segera tahu bagaimana hal-ihwal UIN; kampusnya, kurikulum dan kegiatan ekstra kurikulernya, serta kehidupan anak kost-kostan. Bahkan, beberapa tempat wisata di Jawa Tengah juga ikut dipromosikan oleh penulis. Sebuah usaha yang patut dihargai dalam era dimana wisata ke luar negeri menjadi primadona.


Akhirnya, beberapa hal dalam novel ini menurut saya juga perlu dikritik. Di antaranya adalah sebuah ending yang mudah untuk ditebak. Meski dibumbui dengan lika-liku peristiwa yang mendebarkan di seputar tokoh utama, tetapi pembaca akan segera dapat menebak bagaimana kira-kira akhir ceritanya, ketika telah menyelesaikan bacaan sampai pada halaman tengah buku. Hal itu terlihat ketika Pak Dany, orang tua Revy, ingin menitipkan putrinya kepada salah satu teman lamanya di pesantren, yang ternyata adalah ayahnya Jony, untuk mencarikan jodoh buat Revy.


Beda lagi dengan percintaan antara Jony dengan Betty. Kisah keduanya yang saling mencintai tiba-tiba hilang dalam cerita. Tidak lagi diketahui bagaimana kelanjutan kisah tersebut, padahal kisah ini, menurut saya, sangat berpengaruh terhadap alur cerita selanjutnya. Di samping itu, beberapa dialog yang ada juga masih terlihat kaku. Meski demikian, ini tetaplah novel penyemangat hidup, yang mengajari kita untuk tetap optimis menatap masa depan, dan mengisi hari-hari dengan karya. Novel gaul sekaligus islami.

Thursday, June 14, 2007

Tuhan dalam Bencana

Mungkin inilah negeri bencana. Tidak henti-hentinya bencana menimpa negeri yang dikenal cukup religius ini. Bayangkan, tak ada bagian dari wilayah negeri ini yang luput dari bencana. Di darat, gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor, dan banjir, datang silih berganti. Di laut, air yang meluap telah menelan ratusan ribu nyawa manusia yang menjadi korban. Mengekspor asap ke negara tetangga juga menjadi hal yang biasa.

Terakhir yang menjadi pusat perhatian adalah kecelakaan transportasi. Tidak tanggung-tanggung, semua jenis alat transportasi baik darat, laut, maupun udara, tidak luput dari malapetaka yang mendera. Tidak hanya itu, bencana transportasi dari semua lini ini terjadi saling susul-menyusul dalam waktu yang berdekatan.

Mungkin lantaran bencana yang terjadi secara beruntun inilah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyelenggarakan zikir nasional sehabis shalat Jum’at di Masjid Istiqlal pada hari Jum’at, 9 Maret lalu. Beberapa ulama besar turut hadir, begitu pula hampir semua pejabat tinggi negara. Tak ayal, acara zikir nasional ini pun menyedot banyak perhatian sebagaimana bencana yang telah terjadi itu sendiri. Sehabis acara, kalangan agamawan mengajak umat untuk bertaubat dan mengintrospeksi diri.

Teodisia

Adalah tantangan terbesar umat yang mengaku beragama untuk memecahkan masalah adanya penderitaan di dunia. Semua agama mengklaim bahwa tuhannya adalah tuhan yang maha pengasih, maha penyayang, maha adil, maha pemurah, dan berbagai sifat lainnya yang baik. Dalam Islam, kita mengenal adanya al-Asma’ al-Husna, 99 nama Allah yang baik. Ajaran yang sama dalam bentuk berbeda akan kita temui dalam agama-agama yang lain.

Tetapi kenyataan dalam dunia konkret sehari-hari sering kali bertentangan dengan apa yang dinyatakan oleh agama-agama tersebut. Bencana datang silih berganti, musibah juga tiada henti. Penderitaan-penderitaan tersebut seakan meruntuhkan klaim setiap agama bahwa tuhannya dipenuhi dengan sifat-sifat kebaikan. Inilah yang disebut masalah teodisia, istilah yang pertama kali dimunculkan oleh filsuf Jerman Gottfried Wilhelm Leibniz [1646-1716]. Bahwa dengan banyaknya penderitaan di dunia ini, seolah-olah eksistensi Tuhan perlu pembenaran. Kalau Tuhan adalah maha pemurah dan kasih sayang, lalu dari mana datangnya bencana dan penderitaan ini? Mengapa Tuhan yang maha baik membiarkan penderitaan ini terjadi?

Epikuros, seorang filsuf Yunani Kuno yang hidup lebih dari 2000 tahun yang lalu, telah membahas penderitaan di dunia ini dalam kaitannya dengan keberadaan Tuhan. Dia mengajukan empat kemungkinan yang masih tetap aktual sampai sekarang. Pertama, Tuhan mampu menghapus penderitaan di dunia ini, tetapi tidak mau. Kedua, Dia mau, tetapi tidak mampu. Ketiga, Dia tidak mau dan tidak mampu. Keempat, Dia mau dan mampu. Tiga kemungkinan yang pertama, bagi orang yang beragama, tentu tidak dapat diterima karena bertentangan dengan hakekat Tuhan yang maha kuasa dan maha penyayang. Tetapi kalau kita menerima kemungkinan yang keempat, hal itu tampak sekali bertentangan dengan kenyataan konkret di sekeliling kita yang dipenuhi dengan banyaknya penderitaan.

Penjelasan yang tidak memadai

Penjelasan terhadap masalah bencana dan penderitaan banyak kita dapatkan dari kalangan agamawan. Penjelasan-penjelasan yang familier bagi kita itu di antaranya adalah pertama, bencana merupakan hukuman dari Allah atas dosa yang kita lakukan. Kedua, bencana adalah cobaan terhadap kualitas iman kita terhadap Tuhan. Ketiga, dalam bencana itu sendiri sudah terkandung pahala, yang berarti kebahagiaan di akhirat bagi kita yang terkena. Keempat, secara keseluruhan, dunia dengan penderitaan akan lebih baik daripada yang tanpa penderitaan. Kelima, bencana sudah menjadi nasib kita, sebagai qadla’ dan qadar-Nya kepada kita, sehingga tidak layak bagi kita untuk mempertanyakannya, melainkan tinggal menerimanya saja.

Meski penjelasan-penjelasan yang mereka ajukan ini kelihatan memuaskan, akan tetapi tetap saja tidak memadai. Jawaban pertama, bahwa bencana adalah hukuman atas dosa yang kita lakukan, tidak memperhatikan kenyataan bahwa banyak dari mereka yang terkena bencana adalah orang yang tidak melakukan dosa yang menyebabkan bencana itu. Dalam banjir Jakarta misalnya, katakanlah yang melakukan dosa adalah orang-orang yang membuang sampah di sungai dan orang-orang yang membuat villa di puncak. Tetapi banjir ternyata juga menimpa orang-orang yang sama sekali tidak melakukan kesalahan-kesalahan itu. Bahkan anak kecil yang tidak berdosa pun ikut menderita.

Penjelasan kedua bahwa bencana adalah cobaan dan ujian bagi kualitas keimanan kita juga kurang memadai. Ia menafikan kenyataan dari beberapa orang yang malah semakin menderita dan hancur lantaran terlalu beratnya ujian yang harus mereka hadapi. Jawaban ketiga juga sangat problematis. Apakah Tuhan yang maha baik menuntut bayaran yang begitu “kejam” dari orang yang akan masuk surga? Mengapa surga harus dibayar? Kalau Tuhan mencintai kita, kenapa Dia harus membuat kita menderita sebelum memasuki surganya?

Bagitu pula penjelasan yang keempat bahwa dunia dengan penderitaan akan lebih baik dari pada yang tidak. Pandangan ini berbahaya karena melegitimasi adanya penderitaan sebagian orang demi kebaikan orang banyak. Adapun penjelasan kelima bahwa manusia harus diam saja terhadap qadha’ dan qadar-nya, terhadap bagian salibnya, terhadap karmanya, juga tidak memadai. Apakah tidak boleh memprotes apa yang dirasa sebagai tidak adil? Kalau Allah itu memang sama sekali lain, apa gunanya kita mengatakan bahwa Allah itu maha adil dan maha penyayang?

Kritik agama Marx

Dari beberapa keberatan di atas, maka sudah selayaknya bagi para agamawan untuk tidak begitu saja mengalamatkan bencana dan penderitaan berasal dari Tuhan. Mengembalikan persoalan kepada Tuhan dengan mengesampingkan sebab-sebab riel yang seharusnya dipecahkan tentu tidak akan membawa manfaat, tetapi justru kemunduran dan kerugian besar bagi kita sendiri.

Kembali kepada Tuhan tanpa usaha nyata untuk memperbaiki keadaan justru membenarkan tesis Karl Marx, tesis yang sangat ditentang oleh para agamawan, bahwa agama adalah candu rakyat serta buatan kelas atas dan penguasa. Bagi Marx, agama, sebagaimana candu, hanya memberi kepuasan semu tanpa dapat mengubah kondisi buruk orang kecil dan tertindas. Agama menjanjikan ganjaran yang besar di akhirat bagi orang yang dengan tabah menerima nasibnya.

Kalau sudah demikian, siapa yang paling diuntungkan? Tidak lain adalah para penguasa dan kelas atas. Alih-alih menuntut pertanggungjawaban atas kesalahan yang dilakukakan berkali-kali oleh pemerintah, rakyat malah menerima bencana sebagai ujian dari Tuhan. Alih-alih mempersoalkan dan menuntut ganti rugi yang adil dari perusahaan yang telah menghilangkan masa depan hidupnya, rakyat malah ikhlas menghadapinya sebagai qadla’ dan qadar dari-Nya.

Karena itulah, kita seharusnya curiga setiap kali penguasa mengkhotbahi kita tentang nilai-nilai luhur dan kewajiban-kewajiban moral yang suci. Kita seharusnya mengecek apa sebenarnya dibalik seruan untuk intropeksi diri dari mereka itu. Karena, sering tanpa disadari, khotbah-khotbah semacam itu sarat dengan pamrih, alias ideologis, untuk mempertahankan kepentingan kelas penguasa.